“Kakak
…, sini!” seruku teriak memanggilnya ke arah parkir motor.
Saat
berjalan menghampiri, tidak ada senyum diwajahnya. Aneh. Tidak seperti hari-hari
kemarin. Biasanya, ada saja yang dibicarakan. Topik paling template adalah
pertanyaan tentang adik bayinya.
“Indita
dititip sama siapa, Mah?”
Pertanyaan
itu tidak terdengar sama sekali. Wulan langsung naik motor sembari pegang buku
tulis dan tiba-tiba menyandarkan kepalanya di belakang punggungku.
“Kakak
kenapa?” tanyaku.
Pertanyaan
itu beberapa kali kulontarkan, tapi responnya sama. Diam. Sesaat setelah
menjauh dari gedung sekolah. Tiba-tiba Wulan buka suara.
“Mah,
aku boleh beli pop corn?”
“Boleh,”
jawabku cepat.
Kupikir,
bersuara untuk bercerita. Ternyata melihat pedagang pop corn dipinggir jalan.
Wulan
terbiasa mengkonsumsi makanan atau minuman manis saat perasaannya sedih. Suatu
hal yang didapat dari internet dan menjadi kebiasaan. Generasi Alpha sungguh
luar biasa, pikirku saat melihat dia memilih pop corn manis.
“Kakak
belum siap cerita?” tanyaku sembari melanjutkan perjalanan pulang.
Hening.
Tidak ada jawaban iya atau tidak.
“Tell me your feeling, if you want,”
ujarku menggunakan pakai bahasa Inggris yang lagi dia semangati untuk belajar.
Siapa tahu dia jadi terbuka.
Sampai
depan pintu rumah, tidak ada cerita yang mengalir. Dia hanya bergegas turun
dari motor, masuk, dan menuju kamar. Sedangkan aku, memarkirkan motor dan mengambil
anak bayi yang kutitip ditetangga.
Saat
naik ke kamar dan membuka pintunya. Wulan dalam keadaan telungkup dan terisak. Meskipun
mulutnya tertutup kasur, isaknya masih terdengar.
“Kamu
tidur di kasur dulu, ya. Mama nenangin kakak,” ujarku kepada bayi empat bulan.
Wulan
yang mendengar kata-kata mamanya, langsung bangun dan peluk. Dalam pelukan,
tangisnya pecah. Aku coba menenangkannya. Membelai rambut dan memberinya minum.
Berapa menit kemudian, tangisnya reda. Buku tulis yang sedari tadi dia pegang,
diserahkan kepadaku.
Tidak
ada yang aneh dalam buku tulis khusus coret-coretan itu. Terlihat sketsa-sketsa
gambar anime, tulisan random, dan lembar terakhir yang terisi, ada tulisan
seperti percakapan. Ya, benar, memang percakapan antara Wulan dengan teman
semejanya[1]. Sepintas
tidak ada yang aneh sampai aku membaca satu kata kasar. Bacot.
Saat
aku minta penjelasan mengenai kata kasar tersebut. Tangisnya kembali pecah.
Wulan berusaha menjelaskan sembari terisak.
“Tenangin
diri kamu dulu, coba minum lagi.”
Setelah
tenang, dia melanjutkan ceritanya dengan sesekali sesenggukan. Ternyata, kata
bacot itu ditujukan untuk dia setelah berseteru tentang taplak meja. Menurut
Wulan, letak taplak mejanya tidak presisi, tapi tidak dimata teman-teman
semejanya. Akhirnya, taplak meja ditarik paksa, membuat dua tumbler teman
semejanya jatuh.
“Tapi, hiks, aku gak sengaja, hiks, hiks,” ujarnya sesenggukan membela diri.
Aku
bingung harus berkata apa. Logikaku belum nalar. Masa sih, hanya seperti itu
membuat dia menangis sesenggukan. Kalau pun temannya marah, ya, wajar. Beberapa
menit aku terdiam, berusaha mencerna. Tak lama, Wulan melanjutkan ceritanya.
“Tadi,
aku juga dibentak sama Sasa, cuma gara-gara nyenggol kakinya.”
Kali
ini aku paham, dalam buku ada tulisan kaki
gue lagi kesemutan, tau! Sasa adalah teman perempuan yang tadi menyentuh
pundak Wulan saat di depan gerbang. Mungkin, niatnya mau berbaikan karena tidak
sengaja membentak. Hanya saja, terlanjur kesal.
“Bukan
cuma itu aja, Ma. Tadi waktu mau salat Ashar, ditempat wudu ada kakel yang
isengin aku. Sengaja nyentuh tangan aku biar batal. Kan, aku jadinya ngulang
lagi wudunya. Padahal aku udah bilang kedia, jangan sentuh. Tapi masih aja
diterusin. Mau aku bales pukul, dianya keburu pergi,” cecar Wulan antusias.
“Ya
ampun …, anak Mama hari ini sial banget sih. Kasian,” jawabku menimpali, “Mungkin
kakak kelas itu lagi cari perhatian sama kamu, kali, Kak,” lanjutku menggoda.
“Tau,
ah. Aku sebel, kesel,” ujarnya merajuk sembari memeluk lagi.
“Perasaannya
anak Mama sensitive banget sih.”
“Aku
dibentak, Ma! Dibentak sama temen aku sendiri! Siapa coba yang gak sedih.”
“Mungkin
aja temen kamu ada masalah dirumah. Ditambah lagi, tumblernya kamu jatuhin
gara-gara taplak meja. Keselnya jadi dobel, makanya bentak kamu.”
“Aku
aja nih, ya! Kemaren! Tumbler aku dijatuhin sama temen, tapi aku gak marah, gak
bentak-bentak. Kenapa mereka bentak aku!” serunya marah.
Aku
setengah kaget mendengarnya marah. Egonya tersentil sampai seperti itu. Selama
kelas satu dan dua, tidak pernah melihatnya seemosional seperti ini kepada
temannya. Sebagai orang tua, aku tidak ingin berpihak kepada siapapun. Toh,
sebenarnya hanya kesalahpahaman dan sudut pandang yang berbeda.
“Kakak
gak bisa samain sikap kakak dengan teman yang lain. Apa yang menurut kakak
benar, belum tentu sama dipikiran mereka. Mungkin, kakak bisa diam dan tenang
saat tumbler jatuh. Tapi, kan, belum tentu teman kamu mikir seperti itu. Siapa
tahu itu tumbler kesayangannya.”
Wulan
berusaha mencerna perkataanku, kemudian menyahut, “Sasa juga, masa, kesenggol dikit
aja, sampai begitu sama aku.”
“Eh,
kakak jangan salah. Kesemutan, gak enak loh. Jangankan kesenggol, disentuh aja rasanya
nyeri banget.”
“Oh
…,” gumam Wulan, “Dibentak dan kata kasarnya itu yang bikin aku sedih,”
lanjutnya lirih.
“Kan,
mama suka bentak-bentak kakak. Lebih parah, malah.”
“Tapi,
kan, aku udah biasa. Biasa denger Mamah bentak-bentak.”
“Nah
…, itu dia kuncinya. Biasain,” kataku sembari menggendong bayi yang mulai
rewel.
“Kakak
kan, udah mulai tahu sedikit sikap teman-teman di kelas. Jadi …, coba biasain
diri kalau suatu saat dibentak karena kakak melakukan kesalahan atau ada hal
yang tidak disepakati.”
Sore
itu berakhir dengan lega. Emosi kakak terurai meskipun saat nangis, jadi
tontonan adik bayinya. Melihat Wulan sedih dan berusaha menahan tangis di depan
umum. Rasanya seperti melihat diriku sendiri. Persis. Malu kalau sampai
menangis dilihat orang lain.
[1]
Dikelas tiga, konsep kelasnya lesehan dan menggunakan meja-meja besar untuk
siswa. Satu meja dilapisi taplak meja, berisi empat atau lima siswa



No comments: