EGONYA TERSENTIL

Sore pukul lima, waktunya jemput Wulan sekolah. Sejak naik kelas tiga, dia masuk siang. Sesampainya diparkiran, aku melihatnya menunggu depan gerbang. Dia tidak melihatku karena wajahnya tertutup buku tulis. Sepertinya sedang hafalan, pikirku. Seorang teman perempuan menepuk bahunya. Saat mengetahui siapa yang menepuk, wajahnya terlihat merengut.

“Kakak …, sini!” seruku teriak memanggilnya ke arah parkir motor.

Saat berjalan menghampiri, tidak ada senyum diwajahnya. Aneh. Tidak seperti hari-hari kemarin. Biasanya, ada saja yang dibicarakan. Topik paling template adalah pertanyaan tentang adik bayinya.

“Indita dititip sama siapa, Mah?”

Pertanyaan itu tidak terdengar sama sekali. Wulan langsung naik motor sembari pegang buku tulis dan tiba-tiba menyandarkan kepalanya di belakang punggungku.

“Kakak kenapa?” tanyaku.

Pertanyaan itu beberapa kali kulontarkan, tapi responnya sama. Diam. Sesaat setelah menjauh dari gedung sekolah. Tiba-tiba Wulan buka suara.

“Mah, aku boleh beli pop corn?”

“Boleh,” jawabku cepat.

Kupikir, bersuara untuk bercerita. Ternyata melihat pedagang pop corn dipinggir jalan.

Wulan terbiasa mengkonsumsi makanan atau minuman manis saat perasaannya sedih. Suatu hal yang didapat dari internet dan menjadi kebiasaan. Generasi Alpha sungguh luar biasa, pikirku saat melihat dia memilih pop corn manis.

“Kakak belum siap cerita?” tanyaku sembari melanjutkan perjalanan pulang.

Hening. Tidak ada jawaban iya atau tidak.

Tell me your feeling, if you want,” ujarku menggunakan pakai bahasa Inggris yang lagi dia semangati untuk belajar. Siapa tahu dia jadi terbuka.

Sampai depan pintu rumah, tidak ada cerita yang mengalir. Dia hanya bergegas turun dari motor, masuk, dan menuju kamar. Sedangkan aku, memarkirkan motor dan mengambil anak bayi yang kutitip ditetangga.

Saat naik ke kamar dan membuka pintunya. Wulan dalam keadaan telungkup dan terisak. Meskipun mulutnya tertutup kasur, isaknya masih terdengar.

“Kamu tidur di kasur dulu, ya. Mama nenangin kakak,” ujarku kepada bayi empat bulan.

Wulan yang mendengar kata-kata mamanya, langsung bangun dan peluk. Dalam pelukan, tangisnya pecah. Aku coba menenangkannya. Membelai rambut dan memberinya minum. Berapa menit kemudian, tangisnya reda. Buku tulis yang sedari tadi dia pegang, diserahkan kepadaku.

Tidak ada yang aneh dalam buku tulis khusus coret-coretan itu. Terlihat sketsa-sketsa gambar anime, tulisan random, dan lembar terakhir yang terisi, ada tulisan seperti percakapan. Ya, benar, memang percakapan antara Wulan dengan teman semejanya[1]. Sepintas tidak ada yang aneh sampai aku membaca satu kata kasar. Bacot.

Saat aku minta penjelasan mengenai kata kasar tersebut. Tangisnya kembali pecah. Wulan berusaha menjelaskan sembari terisak.

“Tenangin diri kamu dulu, coba minum lagi.”

Setelah tenang, dia melanjutkan ceritanya dengan sesekali sesenggukan. Ternyata, kata bacot itu ditujukan untuk dia setelah berseteru tentang taplak meja. Menurut Wulan, letak taplak mejanya tidak presisi, tapi tidak dimata teman-teman semejanya. Akhirnya, taplak meja ditarik paksa, membuat dua tumbler teman semejanya jatuh.

“Tapi, hiks, aku gak sengaja, hiks, hiks,” ujarnya sesenggukan membela diri.

Aku bingung harus berkata apa. Logikaku belum nalar. Masa sih, hanya seperti itu membuat dia menangis sesenggukan. Kalau pun temannya marah, ya, wajar. Beberapa menit aku terdiam, berusaha mencerna. Tak lama, Wulan melanjutkan ceritanya.

“Tadi, aku juga dibentak sama Sasa, cuma gara-gara nyenggol kakinya.”

Kali ini aku paham, dalam buku ada tulisan kaki gue lagi kesemutan, tau! Sasa adalah teman perempuan yang tadi menyentuh pundak Wulan saat di depan gerbang. Mungkin, niatnya mau berbaikan karena tidak sengaja membentak. Hanya saja, terlanjur kesal.

“Bukan cuma itu aja, Ma. Tadi waktu mau salat Ashar, ditempat wudu ada kakel yang isengin aku. Sengaja nyentuh tangan aku biar batal. Kan, aku jadinya ngulang lagi wudunya. Padahal aku udah bilang kedia, jangan sentuh. Tapi masih aja diterusin. Mau aku bales pukul, dianya keburu pergi,” cecar Wulan antusias.

“Ya ampun …, anak Mama hari ini sial banget sih. Kasian,” jawabku menimpali, “Mungkin kakak kelas itu lagi cari perhatian sama kamu, kali, Kak,” lanjutku menggoda.

“Tau, ah. Aku sebel, kesel,” ujarnya merajuk sembari memeluk lagi.

“Perasaannya anak Mama sensitive banget sih.”

“Aku dibentak, Ma! Dibentak sama temen aku sendiri! Siapa coba yang gak sedih.”

“Mungkin aja temen kamu ada masalah dirumah. Ditambah lagi, tumblernya kamu jatuhin gara-gara taplak meja. Keselnya jadi dobel, makanya bentak kamu.”

“Aku aja nih, ya! Kemaren! Tumbler aku dijatuhin sama temen, tapi aku gak marah, gak bentak-bentak. Kenapa mereka bentak aku!” serunya marah.

Aku setengah kaget mendengarnya marah. Egonya tersentil sampai seperti itu. Selama kelas satu dan dua, tidak pernah melihatnya seemosional seperti ini kepada temannya. Sebagai orang tua, aku tidak ingin berpihak kepada siapapun. Toh, sebenarnya hanya kesalahpahaman dan sudut pandang yang berbeda.

“Kakak gak bisa samain sikap kakak dengan teman yang lain. Apa yang menurut kakak benar, belum tentu sama dipikiran mereka. Mungkin, kakak bisa diam dan tenang saat tumbler jatuh. Tapi, kan, belum tentu teman kamu mikir seperti itu. Siapa tahu itu tumbler kesayangannya.”

Wulan berusaha mencerna perkataanku, kemudian menyahut, “Sasa juga, masa, kesenggol dikit aja, sampai begitu sama aku.”

“Eh, kakak jangan salah. Kesemutan, gak enak loh. Jangankan kesenggol, disentuh aja rasanya nyeri banget.”

“Oh …,” gumam Wulan, “Dibentak dan kata kasarnya itu yang bikin aku sedih,” lanjutnya lirih.

“Kan, mama suka bentak-bentak kakak. Lebih parah, malah.”

“Tapi, kan, aku udah biasa. Biasa denger Mamah bentak-bentak.”

“Nah …, itu dia kuncinya. Biasain,” kataku sembari menggendong bayi yang mulai rewel.

“Kakak kan, udah mulai tahu sedikit sikap teman-teman di kelas. Jadi …, coba biasain diri kalau suatu saat dibentak karena kakak melakukan kesalahan atau ada hal yang tidak disepakati.”

Sore itu berakhir dengan lega. Emosi kakak terurai meskipun saat nangis, jadi tontonan adik bayinya. Melihat Wulan sedih dan berusaha menahan tangis di depan umum. Rasanya seperti melihat diriku sendiri. Persis. Malu kalau sampai menangis dilihat orang lain.



[1] Dikelas tiga, konsep kelasnya lesehan dan menggunakan meja-meja besar untuk siswa. Satu meja dilapisi taplak meja, berisi empat atau lima siswa

EGONYA TERSENTIL EGONYA TERSENTIL Reviewed by Dwi Noviyanti on August 30, 2026 Rating: 5

No comments:

Followers

Powered by Blogger.